Ratusan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi biasanya memenuhi masjid sejak hari pertama Ramadan untuk membatalkan puasa di sana. Ruangan bagian dalam masjid yang tidak terlalu luas biasanya segera penuh, sehingga jamaah masjid harus salat di teras luar. Saya sering mendengar kisah tentang masjid ini sejak lama, termasuk membaca liputan kegiatan masjid yang dimuat di beberapa media massa lokal. Namun saya baru masuk ke masjid itu pada 2022 lalu, atas undangan salah satu teman yang tinggal di perumahan tersebut untuk mengikuti kegiatan Success Story yang digelar rutin setiap pukul 16.00 sore sampai menjelang azan maghrib.

Pembicara dalam Success Story adalah warga perumahan Permata Jingga sendiri, yang dipilih oleh panitia dan takmir masjid. Saat saya ke sana pertama kali, pembicaranya adalah bapak Mardi Wibawa, pensiunan Pimpinan BRI Kanwil Malang yang memilih menjadi pengusaha toko oleh-oleh dan kuliner di beberapa rest area di jalan tol. Kala itu, dia menyampaikan alasannya memilih pensiun dini dan menolak tawaran posisi direksi dari bank umum konvensional lain karena memutuskan untuk berhijrah.
“Dulu, meeting dan kunjungan tamu seringkali membuat saya salat mepet di waktu akhir. Hati tidak tenang, tapi tidak bisa berubah karena pekerjaan yang selalu ada, terus menerus,” katanya. Kini, Pak Mardi berusaha untuk selalu salat berjamaah di awal waktu. Ketika hendak pergi ke luar kota, dia sudah mengatur waktu sedemikian rupa dan menentukan masjid tempat salat berikutnya.
Dalam sesi diskusi dan tanya jawab, saya sempat mengacungkan tangan untuk bertanya. Eh, lha kok ternyata ada hadiah yang disiapkan Pak Mardi untuk penanya. Alhamdulillah, saya pun dapat fresh money Rp 150.000, hahaha. Rezeki Ramadan nih.
Sejak saat itu, saya sudah beberapa kali kembali ke Masjid Cahyaningati. Biasanya saat harus salat sesudah berkunjung ke rumah kolega di perumahan tersebut.
