Tidak seperti teman-teman alumni seangkatan yang mengabdi atau kuliah di ISID (sekarang UNIDA) dan menjadi mahasiswa Ustad Amal atau bahkan mahasiswa bimbingan skripsi beliau seperti Isdaryani, aku jarang bertemu dengan Ustad Amal. Jadi, tidak banyak kenangan tentang beliau di memoriku. Hanya mendengar bagaimana sosok Ustad Amal dan kiprahnya dalam membangun Unida dan kepeduliannya terhadap ilmu, literasi, dan umat Islam.
Aku hanya sesekali bertemu di momen-momen tertentu, seperti ketika teman-teman Jurnalis Alumni Gontor (JAGO) menggelar Malam Literasi Santri di Unida awal 2019. Saat itu sempat berbincang cukup lama dengan Ustad Amal, karena aku menjadi satu-satunya alumni Gontor Putri di tengah para jurnalis alumni Gontor Putra. Kami membahas tentang media massa dan perusahaan yang menaungiku bekerja, dan Ustad Amal sempat memberikan pesan khusus untukku bersikap sebagai seorang wartawan perempuan.
Pertemuan lebih lama terjadi ketika Ustad Amal bersilaturahmi ke rumah Ustad Fuad di Malang beberapa tahun lalu. Kedua tokoh ini memang dekat dan bersahabat. Beliau mengobrol dan berdiskusi di rumah Landungsari Asri. Gayeng. Aku hanya sesekali masuk dalam pembicaraan dua ulama senior itu.
“Ustad, saya boleh minta no HP njenengan kah?,” kataku saat itu. Meminta no HP tokoh siapapun yang aku temui adalah kebiasaan semenjak menjadi wartawan. Siapa tahu, suatu hari membutuhkan kontak tersebut.
“Buat apa?,” tanyanya.
“Yaaa…biar punya no HP njenengan tad. Nanti izin saya chat njih, hehehe.”
“Aku nggak hapal nomernya, tanya ke ibu ya,” ujar beliau.
Aku pun tanya no HP Ustad ke ibu, yang langsung beliau share.
“Awas, jangan disebar lho ya,” pesannya.
“Siaap, enggak saya sebar kok tad.”
Saat Ustad Amal dan ibu hendak pamit, aku mengingatkan beliau untuk berfoto bersama dengan Pak Fuad dan ibu. Oia, aku nggak pernah memanggil Pak Fuad dengan ustad seperti alumni Gontor lain dan masyarakat umum memanggil beliau. Karena ya, Pak Fuad dan Ibu sudah seperti orang tua keduaku di Malang.
“Ustad, afwan, foto bersama dulu njih…”
“Oia, foto. Biasa ini, Dewi selalu ingat dokumentasi,” kata Pak Fuad, tertawa. “Maklum, wartawan,” lanjutnya.
Padahal, aku sudah tidak menjadi wartawan, hehehe. Sudah resign, mengundurkan diri dari hiruk pikuk media. Tapi ya, profesi yang aku jalani belasan tahun memang susah untuk dilepas imagenya dari diriku.
“Bu Fuad, sebelah sini bu…” ujar Hj. Izzah, istri Ustad Amal mempersilakan Bu Ud, istri Pak Fuad untuk duduk di sebelahnya saat foto bersama.
“Putri Pak Fuad, duduk sebelah situ,” lanjut Ustad Amal menunjukku.
“Tapi saya bukan putri Pak Fuad, ustad, hehehe,” kataku. Pak Fuad dan ibu tertawa. “Dewi ini teman Nadia, sudah seperti anak sendiri,” respons Pak Fuad.
Setelah mendapat nomor Ustad Amal, aku chat beliau sembari memperkenalkan diri. Ini etika dasar ketika aku mendapat nomor baru dari siapapun. Pesanku dibaca. Sepertinya Ustad Amal langsung menyimpan nomorku, karena WA story beliau yang sangat jarang itu mulai terbaca di laman update.
Sesudah momen itu, aku tidak pernah mengirimkan chat apapun. Santriwati bernama Dewi ini tidak ingin menambahi “pesan sampah” ke kolom chat kiai. Urusan beliau sudah sangat banyak dan besar. Aku hanya mengirimkan ucapan lebaran Idul Fitri dan memberikan kabar terbaru terkait kondisi kesehatan Pak Fuad kala itu, termasuk mengabarkan saat Pak Fuad wafat.
***
Innalillahi wa inna ilaihi rajiun…
Selamat jalan Ustad Amal,
Selamat beristirahat dalam rahmat-Nya,
Jejak dakwahmu tertinggal di bumi,
Doa-doamu untuk kami dan doa-doa kami untukmu mengalir menuju langit.
Terima kasih atas ilmu yang kau wariskan,
atas cahaya yang kau titipkan di relung hati kami.
Semoga kami mampu menjaga dan mengamalkannya,
menjadikannya wasilah perjumpaan kembali di taman-taman surga-Nya kelak.
Insya Allah.
Dewi Yuhana, Gontor Putri 698